Minggu, 01 Desember 2019

Masjid Jami' Baiturrahman

Diantara salah satu yang dibanggakan orang Aceh saat ini adalah Masjid Jami' Baiturrahman atau Masjid Raya Baiturrahman yang terletak di pusat kota Banda Aceh.Yang membangun Masjid ini adalah Sultan Alauddin Mahmud Syah (1268-1309) dengan bentuk yang tidak seperti sekarang ini.Telah terjadi banyak peristiwa kebakaran terhadap Masjid tersebut dengan sebab-sebab yang berbeda.Terakhir, kebakaran terjadi ketika Belanda berusaha merebut kota kita dan tanah Aceh pada tahun 1873.Para penjajah mengalahkan Sultan Alauddin beserta pasukannya dan menjajah negeri kita tercinta.Sultan Alauddin beserta rakyatnya mengerahkan usaha-usaha untuk membela agama dan negara dari penjajahan musuh-musuh Islam dan kaum muslimin.Dan dalam peperangan besar lagi bengis ini, Masjid Raya terbakar seluruhnya dan hal ini memaksa Sultan Alauddin untuk memilih keluar dari kota Banda Aceh beserta para pengikutnya.

Tampak Depan dari Masjid
Setelah Belanda menguasai kota Banda Aceh sepenuhnya,Van Der Hejden (duta besar Belanda) kembali membangunnya pada tahun 1879.Dan dia membangun satu menara di sana.Bangunan masjid tersebut di desain oleh De Bruen (seorang arsitek hebat yang berkebangsaan Perancis).Sebelum merancang bangunan masjid tersebut,ia telah berkeliling di beberapa negara-negara Islam seperti Turki, Iran, Irak, Mesir, Spanyol, dan India.Setelah mengelilingi negara-negara tersebut,De Bruen bermusyawarah dengan para temannya terkait pembangunan masjid ini.Maka jadilah seperti yang kita lihat sekarang ini, campuran seni arsitektur dari beberapa negara yang telah di sebutkan dengan tambahan seni arsitektur Aceh itu sendiri.

Pada tahun 1935,A.V.H. Van Akeun -Jenderal Besar Belanda-melakukan perluasan dan membangun tiga kubah masjid.Begitu juga yang dilakukan oleh Gubernur Ali Hasjmy setelah negara kita merdeka dari jajahan Belanda selama 22 tahun.Beliau melakukan perluasan dan menambah dua kubah lagi hingga semuanya berjumlah lima kubah,seiringan dengan itu beliau juga membangun dua menara.Dan perkara perluasan belum berhenti sampai disini karena semakin banyaknya jumlah penduduk Banda Aceh dan mereka meyakini bahwa shalat di masjid lebih afdhal.Maka perluasan pun dilakukan pada masa gubernur Ibrahim Hasan tahun 1992. Namun belum selesai Beliau melakukan perluasan, Beliau kemudian di tunjuk sebagai menteri pangan.Maka pada masa tersebut,perluasan pun tidak rampung.Perluasan dirampungkan kemudian pada masa Syamsuddin Mahmud yang merupakan gubernur pengganti Ibrahim Hasan pada tahun 1995. Syamsuddin menambahkan dua kubah dan dua menara hingga menjadi tujuh kubah dan lima menara.Dinding masjid dihiasi dengan kaligrafi-kaligrafi Qur'an nan indah dan ukiran-ukiran khas dari Aceh.


Potret Bagian Dalam dari Masjid

Untuk saat ini diadakan halaqah-halaqah belajar qur'an untuk setiap tingkatannya mulai dari mengeja,membaca tartil,tilawah,dan tahfizh.Atau dari pemula hingga ke yang lebih tinggi.Halaqah tersebut diadakan sebagaimana diadakannya tausiyah setelah shalat magrib dan subuh. Dan juga telah dikhususkan bagian dari masjid untuk pustaka dan ruang untuk mengajar,menela'ah,berdiskusi,ataupun tempat untuk para ulama besar berdebat tentang fiqh,tafsir,dan hadits.Jadi,masjid ini tidak hanya digunakan untuk shalat saja,akan tetapi digunakan juga untuk mencerdaskan generasi yang akan datang. Dan diharapkan peran masjid kembali berjalan seperti yang telah di contohkan Rasulullah SAW.


Alamat:
.https://maps.app.goo.gl/8DNo8mw8sCmUbp6Y9

Referensi:Buku Muthalaah lil mustawaa al ulaa karangan Drs.Utsman Husain,Lc.,MAG (Dosen di Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar